BAB. II Sejarah Adat Kebudayaan Aceh

in

Pada masa lampau, Aceh adalah sebuah kerajaan islam yang besar di nusantara ini. Kerajaan ini pernah berkuasa sampai ke Pariaman (Daerah Minang Kabau), bahkan sampai kemalaka, sehingga terlihat adanya persamaan kebudayaan dan tata arias pengantin Melayu, Minangkabau dan juga adanya pengaruh dari Arab dan China, Eropah serta Hindu/ Hindia. Hal ini terjadi karena pengaruh latar belakang keturunan serta hubungan dengan suku bangsa tersebut.

Pada zaman sultan Ali Muhayat Syah, Aceh mulai dikenal oleh dunia, karena keberhasilannya memukul mundur bangsa portugis saat terjadi sengketa di selat Malaka, Meurah Johan, Sultan Pertama kerajaan Aceh Darussalam (Tahun 1205-1234) adalah putra dari Adi Genali atau Teungku Kawe Teupat, yang di rajakan di negeri Lingga (Aceh Tengah). Beliau dating dari kerajaan samudera pasai dan masih ada hubungan darah dengan raja peureulak. Pada saat itu Meurah Johan dana Maharaja Indra Sakti dari kerajaan Indra Purba (Aceh Besar) dapat memukul mundur serangan lascar Cina. Akhirnya Maharaja Indra Sakti masukislam dan menikahkan putrinya yang bernama Beleng Indra Keusuma dengan Meurah Johan.
Panglima perang lascar Cina yang memimpin penyerbuan ke lamuri adalah seorang wanita yang bernama putrid Nian Nio Lian Khi. Serangan laskar cina itu dapat dikalahkan oleh Meurah Johan dan putri Nian Nio Lian Khi dapat di tangkap. Setelah Putri Nian Nio Lian Masuk Islam dan atas persetujuan permaisurinya, Meurah Johan menikahi putrid Nian Nio Lian Khi yang kemudian dikenal dengan sebutan Putro Neng.
Puncak kejayaan Aceh adalah saat kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda yang begelar Meukuta Alam. Prmaisurinya yang pertama adalah seorang putri yang berasal dari kerajaan Bugis. Setelah permaisurinya mangkat, Sultan Iskandar Muda menikah dengan Peteri Pahang (Putro Phang). Puteri Pahang yang menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda merupakan hadiah dari dua orang yang bersengketa dalam memperebutkan puteri tersebut. Atas keputusan Sultan Iskandar Muda, maka sengketa itu dimenangkan oleh salah seorang dari mereka yang bernama Raja Raden kagum atas keputusan sultan yang adil serta bijaksana, maka sebagai rasa terimakasih, Raja Raden menghadiahkan Puteri Pahang kepada Sultan Iskandar Muda. Sedangkan Raja Raden sendiri menikah dengan adik Sultan.

Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai seorang yang berbudi tinggi, adil, bijaksana dan perkasa, sehingga menjadi kecintaan rakyatnya. Dibawah pimpinan sultan Iskandar muda, Negeri Aceh menjadi Negara yang termasyhur dan rakyatnya hidup makmur sentosa. Demikian pula dengan Puteri Pahang, iapun mendapat tempat di hati rakyat, dan turut pula dalam menyusun Undang-undang Negara; Sehingga sebuah pameo yang berbunyi:
“Adat bak Po Teumeurehom”
“Hukom bak Syiah Kuala”
“Kanun bak Putro Phang”
“Reusam Bak Laksamana”
Maksudnya:
“Stabilitas Kerajaan (Executif)”
“Hukum (Fatwa Ulama)”
“Peraturan Putri Pahang/ Permaisuri Sultan Iskandar Muda (1607-1636)”
“Peraturan (Reusam) Laksamana”.

Demikian sekelumit sejarah kebudayaan suku Aceh yang ada di daerah pesisir, yang antara daerah pesisir satu dengan daerah pesisir lainnya memiliki banyak persamaan kebudayaan dan saling berkaitan satu samalain.

0 komentar: